HEART CONFESSION ON SATURDAY NIGHT


Dan tidak tahu kenapa hasrat saya untuk menulis artikel seperti meledak-ledak, apakah karena akhir-akhir ini saya cukup banyak waktu untuk bisa dikatakan menganggur. Posisi yang satu itu memang tidak lah mengenakkan, dimana saya tipe orang pekerja keras dan suka dengan kesibukan dan ketika ada di suatu titik itu saya merasa seperti orang yang benar-benar tidak berguna, dan menulis ini adalah untuk memberikan ketenangan pada diri dan pikiran saya untuk bisa dikatakan sedikit berguna Sepertinya saya merasa seperti sedang kuliah dulu tepatnya ketika tahap penyelesaian skripsi dimana teman-teman saya sudah berada di tahap, katakan lah, tahap X+1 sedangkan saya berada di tahap X-2. Saya bahkan tertinggal minus satu, jauh tertinggal. Kadang saya iri tapi iri saya adalah positif layaknya kuda pacu yang berlomba di lintasan sekuat tenaga memberikan yang terbaik. Dan saat itu saya terlihat kalah cepat karena teman-teman saya lebih cepat lulus dibandingkan saya. Begitu juga saat ini saya iri, iri saya positif, melihat teman-teman sudah berkarya memeras keringat demi sebongkah emas berlian sementara saat ini saya belum. Dalam diri saya berkata “Ah ini hanya lah sementara”. Saat ini mungkin menulis adalah kesempatan mengasah kemampuan saya lainnya. Gairah menulis ini berawal dari ketika saya menonton tayangan di televisi mengenai kisah seorang yang muda dan yang berprestasi yang suka menulis juga. Bagi saya mungkin kegiatan itu cocok dengan saya saat ini. Bagi saya mungkin kegiatan itu cocok dengan saya yang suka bercerita. Cerita yang saya sampaikan kepada teman-teman bukan lah cerita pribadi mendalam. Saya memang suka cerita tetapi saya juga termasuk orang tertutup. Pernah ada tes psikologis sederhana yang saya lakukan dan hasilnya adalah saya termasuk orang yang memiliki nilai seimbang untuk orang dengan karakter warna merah dan biru.

Saat saya menulis ini adalah ketika malam minggu. Di saat orang lain lebih tepatnya pemuda/pemudi pergi melepas penat dengan pergi bersama pasangannya saya malah ada di depan komputer menulis artikel ini dengan ditemani musikalisasi puisi Ari Reda dan segelas kopimix. Suasana yang sangat mendukung untuk berpikir cepat. Ketika menulis artikel ini pula sedang diselenggarakannya Semarang Night Carnival dan saya malah melakukan senam jari memijat keyboard dan mengelus mouse. Memang saya tidak begitu suka dengan acara hang out tetapi ketika ada yang mengajak travelling or hiking to the top of mountain saya akan sangat tertarik sekali. Tetapi saya masih bisa dinego kemana pun akan pergi. Fleksibel. Bisa dikatakan saya lebih tertarik di rumah saja ketimbang di luar. Saya merasa tidak perlu pergi ke luar saat ini. Memang seakan-akan hati ini masih terngiang dengan hidup saya di kos yang suka hang out mungkin bisa disebut hang out yang berbeda. Dulu pergi ke luar untuk melakukan tuga –tugas kuliah dan tugas-tugas organisasi. Tetapi itu lah menariknya karena banyak hal baru yang saya dapatkan. Mungkin akan sama saja tetapi mungkin saya belum bisa beradaptasi lagi dengan kehidupan rumah. Banyak teman yang sibuk. Banyak teman yang saya lupa, rumah dan nomor hand phone nya. Tetapi saya belum pikun saya masih bisa mengenal dan menyebut nama ketika bertemu mereka. Hanya satu kelompok teman yang tak akan terlupakan yaitu Coploxthox.

Akhir-akhir ini hari-hari ku memang tak semenarik yang biasanya, bagi saya. Tidak banyak frame adegan yang saya lakukan. Hanya berkutat di sekitar rumah dan melakukan hal monoton. Menjenuhkan memang tetapi entah saya bisa nyaman dengan hal itu di rumah ini. Rumah saya bukan lah rumah gedongan dengan fasilitas sangat lengkap tetapi adalah rumah sederhana apa adanya. Sederhana dan disyukuri. Bangun pagi sholat subuh jama’ah adalah rutinitas yang tidak boleh terlewatkan. Karena menurut yang saya ketahui subuh itu adalah ketika malaikat turun langsung datang melihat kita beribadah. Memang tiap harinya saya harus sholat berjama’ah di mushola. Bagaimana tidak, malu saya jika tidak bisa sholat jama’ah, karena jarak mushola dengan rumah saya hanya berjarak kurang lebih 13 langkah. Di sekitar rumah ada 6 mushola/masjid, itu yang saya ketahui. Jadi bisa dibayangkan ketika adzan dan pengajian bersamaan. Sangat pesantren sekali suasananya. Tiap ada adzan atau pengajian cukup duduk manis di rumah pun sudah seperti datang pengajian di mushola. Itu lah nikmat yang saya dapatkan. Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau di rumah memang saya usahakan sholat berjamaah karena saya selalu tidak bisa sholat berjamaah ketika ada di kos, kecuali sholat jum’at. Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selamat pagi. Dan akhirnya artikel ini saya lanjutkan di pagi hari ini, minggu. Malam tadi akhirnya saya berbaring sebentar dan tertidur setelah melanjutkan dengan satu paragraf dan minum kopimix. Memang kopimix tidak bisa membuat terjaga. Mungkin artikel ini sudah tidak lagi cocok diberi judul pengakuan hati di sabtu malam. Tetapi setelah dipikirkan sudah terlanjur sudah saya ketik dan saya malas mengganti lagi. Apa arti sebuah judul. Pagi ini saya sengaja lanjutkan karena saya merasa ada satu hal yang terbengkalai untuk diselesaikan. Suasana hari yang nyaman bagi saya adalah suasana di pagi hari. Suasana sangat memberikan kesejukan, kesegaran, dan kebugaran. Dan serasa pikiran ini masih fresh untuk menuangkan gagasan kreatif. Belajar untuk ujian pun saya lebih suka belajar di pagi hari. Selagi malam saya lebih suka membaca materi tidak mantap. Kemudian pagi-pagi sebelum subuh bangun untuk belajar. SKS atau Sistem Kebut Sepagi hari. Tetapi bagi yang suka belajar ini adalah contoh yang buruk. Tetapi cukup bekerja untuk memori jangka pendek.

Saat menulis artikel ini saya sambil mendengarkan pengajian Al Hikam mp3 yang saya dapatkan dari dosen saya sewaktu kuliah. Pengajian Al Hikam disampaikan oleh Kyai dari Jombang yang belum saya ketahui nama nya. Mungkin nanti akan saya tanyakan ke dosen saya lebih dahulu. Dan menjadi tidak fokus dalam menulis ini. Karena isi kajian yang sangat menarik untuk disimak. Dan akhirnya saya stop dulu untuk menyelesaikan artikel ini. Artikel ini bukan lah artikel yang terkonsep rapi dengan urutan alur tetapi adalah artikel bebas yang disusun secara inisidental yang ada di pikiran. Benar-benar-benar insidental. Insidental pula setelah sedikit saya mendengar pengajian tadi saya merasa kangen dengan rutinitas pengajian yang saya ikuti setiap minggu ke- 2, 3, 4 setiap bulannya di rumah dosen yang saya minta mp3 Al Hikam ini. Bagi saya aktivitas ini adalah sangat penting bagi mahasiswa-mahasiswi yang kajian keagamaannya sangat tidak proporsional di akademik perkuliahan. Saya berpikir pengajian ini lebih tepat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Sampai-sampai secara tidak terkonsep aktivitas ini saya jadikan sebagai agenda rutin pengurus organisasi yang muslim ketika saya memimpin suatu organisasi. Lebih tepat bagi saya untuk mencari ilmu agama yang aman dan nyaman dibandingkan diskusi dengan mahasiswa yang sebagai pengurus organisasi keagamaan di kampus. Akan banyak emosi dan nafsu yang melingkari diri saya saat diskusi dengan mereka. Saya juga beberapa kali waktu itu mengajak teman-teman yang saya kenal untuk datang pengajian. Tapi ya itu semua terserah dengan kehendak hati mereka karena toh bukan ajakan saya yang menjadikan mereka mengerti ilmu agama. Di kosan pun hanya satu yang mampu bertahan rutin datang pengajian bersama dengan saya. Tetapi itu juga ketika ada saya di kos untuk mengajak dia. Jika tidak ada maka dia pun juga tidak datang karena merasa kurang nyaman tidak ada yang kenal. Saya juga pernah memintanya untuk mengajak teman kampusnya. Maklum pengajian ini banyak dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi dari fakultas saya berkuliah waktu itu. Sampai saat ini agenda minggu ke- 2, 3,4 itu masih berlangsung dan saya berdoa semoga pengajian yang menjadi sarana belajar ilmu agama dengan belajar langsung dari guru nya akan tetap berlangsung sampai kapan pun. Dan semoga Tuhan memberkahi pengajian itu, orang-orangnya, dan yang memberikan sarana diselenggarakannnya pengajian tersebut.

Bicara tentang pagi ini di kosan pasti sangat sepi karena. Mesti saya sudah tidak lagi banyak tinggal di kos, Solo, tetapi sewa kamar kos saya masih sampai bulan September besok. Jadi kadang-kadang saya ke kos untuk sekedar ada urusan. Hari sabtu merupakan hari mudik bagi kebanyakan teman kos. Rumah yang cukup dekat memberikan kesempatan untuk pulang tiap weekend. Dan tidak jarang menyisakan 3-4 orang untuk menjdai satpam kos, termasuk saya. Saya adalah penghuni kos yang mendapat predikat satpam kos karena jarang sekali pulang mudik. Jarak solo semarang memang tidak terlalu jauh tetapi entah kenapa saya merasa ada saja hal yang harus diselesaikan waktu itu. Jadi jarang sekali pulang mudik. Terlebih lagi ketika kurang lebih 3 tahun saya mengikuti kegiatan organisasi kampus semakin membuat saya jarang pulang. Kadang rapat, kadang survei, kadang menyelesaikan proposal, kadang dimintai tanda tangan. Tapi saya suka semua itu. Bukan berarti saya tidak perhatian dengan orang tua. Saya kadang memberitahukan saya sedang apa dan akan apa. Saya tidak lupa berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan mereka. Yang saya tahu ridlo Tuhan bergantung kepada ridlo orang tua. Jadi berpikir apa lagi untuk selalu berdoa untuk kedua orang tua.

Untuk organisasi, saya masih dianggap sebagai koordinator Semarang Community (Semut). Yaitu komunitas mahasiswa-mahasiswi asal Semarang dan sekitarnya yang kuliah di UNS Solo. Dari awal berdirinya yaitu bulan puasa tahun 2008 sampai sekarang Mei 2011 saya masih sebagai koordinator. Bukan hal yang membanggakan bagi saya karena komunitas ini saya anggap kurang berkembang dan itu karena saya yang kurang menggiatkannya. Perlu adanya regenerasi. Sangat perlu. Dalam waktu dekat, kami berencana akan ada rekreasi ke Jumog dan di sekitaran kebun teh Kemuning. Semoga dapat terealisasikan karena seringnya komunitas ini hanya berakhir sampai di rencana saja tanpa ada pelaksanaan. Dan semoga untuk yang satu ini tidak berakhir seperti itu. Kegiatan itu saya pikir sangat pas untuk menunjukkan eksistensi komunitas ini di tengah hampir hilangnya semangat berkomunitas. Ada satu hal yang diungkapkan di sini bahwa mungkin komunitas ini tidak berkembang karena koordinatornya tidak kreatif dan lepas tangan tetapi kenyataannya saya kebanyakan juga lah yang menjalankan program yang telah disepakati padahal sudah sempat dibentuk bidang-bidang yang membidangi nya. Ada saja alasan yang membuat yang lain tidak bisa mensukseskan. Kemudian saya pikir ada baiknya jangan saling menyalahkan dan menyusun kegiatan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Terima kasih untuk teman-teman Semut yang kemarin-kemarin nongkrong di hik sampai diusir yang punya hik segala. Mengesankan.

Mungkin saya cukupkan saja cerita edisi kali ini sudah 5 halaman dan pasti nanti yang membaca akan lelah membaca lewat layar LCD atau layar monitor biasa nya. Sudah tidak akan sangat relevan lagi dengan judul di atas jika tulisan ini dilanjutkan. Tulisan ini hanya pengisi waktu di kala senggang. Dan seketika itu juga bau masakan ibu saya tercium harumnya membuat perut ini tak bisa kompromi menahan lapar. Memang akhir-akhir ini saya sedikit mengurangi jatah makan saya karena saya prihatin dengan kondisi perut kotak-kotak saya yang semakin mblendung saja. Tidak banyak aktivitas tetapi makan melaju kencang. Tidak seimbang. Itu yang membuat perut semakin membulat. Tulisan ini hanya pelipur lara terhadap pikiran yang akhir-akhir ini tidak banyak melakukan hal-hal, seperti yang sudah disampaikan. Semoga Heart Confession ini dapat diterima untuk dibaca blogwalker sekalian.

Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar